Cari Blog Ini

Minggu, 26 Februari 2023

BAB IV _ KHITTAH NAHDLATUL ULAMA' (NU)

Bab
IV
Khittah Nahdlatul
Ulama (NU)

A. Khittah Nahdlatul Ulama (NU)
     Pada Muktamar ke-27 tahun 1984, secara resmi NU kembali ke Khittah NU
1926. Hal ini ditandai dengan keluarnya NU dari PPP. Sejak saat itu, NU kembali
menjadi organisasi sosial keagamaan sebagaimana saat NU didirikan pada 31.

1. Pengertian Khittah Nahdlatul Ulama (NU)
     Khittah berarti garis. Dalam hubungannya dengan Nahdlatul Ulama, kata
     khittah berarti garis-garis pendirian, perjuangan, dan kepribadian NU, baik
yang berhubungan dengan urusan keagamaan maupun kemasyarakatan, baik
secara perorangan maupun organisasi.
Khittah Nahdlatul Ulama adalah landasan berpikir, bersikap, dan bertindak
warga Nahdlatul Ulama yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan
dan organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.
     Pada Muktamar NU Ke-27 tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur dise-
butkan bahwa Khittah NU 1926 adalah landasan berpikir, bersikap, dan
bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku dan proses
pengambilan keputusan, baik perseorangan maupun organisasi. Landasan
tersebut ialah paham Islam Ahlussunnah Wal-Jama'ah yang diterapkan
menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia. Hal itu meliputi dasar-dasar
amal keagamaan dan kemasyarakatan. Dengan demikian, Khittah NU 1926
digali dari inti sari perjalanan sejarah khidmahnya dari masa ke masa. Menurut
Kiai Muchit, Khittah NU 1926 merupakan dasar agama warga NU, akidahnya,
syariatnya, tasawufnya, dan paham kenegaraannya.
      Dari pengertian khittah tersebut dapat dipahami bahwa seluruh pikiran,
sikap, dan tindakan warga NU harus berlandaskan khittah NU, baik secara
perseorangan maupun organisatoris kolektif. Setiap kali mengambil keputusan,
proses, prosedur, dan hasil keputusannya harus sesuai dengan khittah NU.
      Oleh karena khittah NU berlandaskan pada paham Ahlussunnah Wal-
Jama'ah, segala keputusan dalam NU harus ditempuh melalui cara-cara
yang sesuai dengan norma-norma Ahlussunnah Wal-Jama'ah, yaitu melalui
musyawarah dengan mempertimbangkan segala kepentingan secara seimbang
serta dengan menggunakan dalil-dalil dan kaidah-kaidah keagamaan. Peng-
ambilan keputusan itu tidak boleh hanya mengikuti kehendak nafsu (emosi)
atau kepentingan sesaat dan mengabaikan berbagai pertimbangan yang wajar yang sesuai pada tempatnya.

2. Materi Khittah Nahdlatul Ulama (NU)
Bagi Nahdlatul Ulama, pemahaman Ahlussunnah Wal-Jama'ah itu tidak
hanya terbatas pada bidang akidah saja, tetapi juga meliputi bidang fikih, tasawuf,
akhlak, dan kemasyarakatan. Hal ini merupakan salah satu ciri khas NU di dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal-Jama'ah.
     Ciri khas lain yang dimiliki NU dalam memahami, menghayati, dan
mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah menerapkannya sesuai
kondisi kemasyarakatan di Indonesia. Hal ini bukan berarti NU mengubah ajaran
Islam untuk disesuaikan dengan keadaan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, NU
memahami Islam sebagai agama yang harus diperjuangkan penerapannya di seluruh dunia. Ada sebagian ajaran Islam yang diterapkan seragam di seluruh dunia dan ada sebagian yang prinsipnya seragam, tetapi wujud penerapannya pada suatu tempat berbeda dengan tempat yang lain karena perbedaan kondisi dan situasi.
     Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa ajaran birrul-walidain merupakan
bagian dari ajaran Islam yang harus diterapkan dan diamalkan di seluruh dunia.
Akan tetapi, wujud nyata dari penghormatan terhadap orang tua boleh jadi berbeda
antara satu negara dan negara lainnya.

a. Paham Keagamaan NU
     Dari kedua sudut pandang pemahaman ajaran Islam Ahlussunnah Wal-
Jama'ah tersebut, rumusan materi khittah NU dapat disusun sebagai berikut.
1) Nahdlatul Ulama mendasarkan paham keagamaannya kepada sumber
ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an, as-Sunnah, al-Ijma', dan al-Qiyas.
2) Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya
tersebut, Nahdlatul Ulama mengikuti paham Ahlussunnah Wal-Jama'ah
dan menggunakan jalan pendekatan (mazhab) sebagai berikut.
a) Di bidang akidah, Nahdlatul Ulama mengikuti paham Ahlussunnah
Wal-Jama'ah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
b) Di bidang fikih, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu jalan
pendekatan (mazhab) dari Imam Abu Hanifah an-Nu'man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
c) Di bidang tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti ajaran Imam al-Junaid
al-Bagdadi dan Imam al-Gazali.
3) Nahdlatul Ulama mengikuti pendirian bahwa Islam adalah agama fitri yang
menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia. Paham
keagamaan yang
dianut oleh Nahdlatul Ulama bersifat menyempurnakan
nilai-nilai yang baik yang sudah ada dan menjadi milik serta ciri-ciri
suatu kelompok manusia, seperti suku atau bangsa, dan tidak bertujuan
menghapus nilai-nilai tersebut.
b. Sikap Kemasyarakatan NU
Dasar-dasar pendirian paham keagamaan Nahdlatul Ulama tersebut
menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang bercirikan hal-hal sebagai berikut.
1) Sikap tawassut dan iktidal, yaitu sikap tengah yang berintikan prinsip
menjunjung tinggi keharusan berlaku adil di tengah-tengah kehidupan
bersama. Dengan sikap dasar ini, Nahdlatul Ulama akan selalu menjadi
kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus serta selalu bersifat
membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat
tatarruf (tatarruf) atau ekstrim.
2) Sikap tasamuh, yaitu sikap toleran terhadap perbedaan pandangan,
baik dalam masalah keagamaan, terutama dalam hal-hal yang bersifat
furu (cabang), atau menjadi masalah khilafiah, maupun dalam masalah
kemasyarakatan dan kebudayaan.
3) Sikap tawazun, yaitu sikap seimbang dalam berkhidmah. Nahdlatul Ulama
menyerasikan khidmah kepada Allah swt. dengan khidmah kepada sesama manusia serta khidmah kepada lingkungan hidupnya. Nahdlatul Ulama juga menyelaraskan kepentingan masa lalu dengan kepentingan masa kini
dan masa datang.
4) Amar makruf nahi mungkar, yaitu selalu memiliki kepekaan untuk
mendorong perbuatan yang baik, berguna, dan bermanfaat bagi kehidupan
bersama serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan
dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
     Dasar-dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan tersebut membentuk
perilaku warga Nahdlatul Ulama, baik secara perorangan maupun organisasi.
Perilaku-perilaku tersebut adalah
a. menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-norma ajaran Islam;
b. mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi;
c. menjunjung tinggi keikhlasan dalam berkhidmah dan berjuang;
d. menjunjung tinggi persaudaraan (al-ukhuwwah), persatuan (al-ittihad),
serta saling mengasihi;
e. meluhurkan kemuliaan moral (al-akhlakul-karimah) dan menjunjung
tinggi kejujuran (as-sidqu) dalam berpikir, bersikap, dan bertindak;
f. menjunjung tinggi kesetiaan (loyalitas) kepada agama, bangsa, dan negara;
g. menjunjung tinggi nilai amal, kerja, dan prestasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah swt.;
h. menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan ahli-ahlinya;
5. Berpolitik bagi NU harus dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama,
konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama.
6. Berpolitik bagi NU dilakukan untuk memperkukuh konsensus-konsensus
nasional, dan dilakukan sesuai dengan akhlakul karimah sebagai pengamalan
ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama'ah.
7. Berpolitik bagi NU tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan
bersama dan memecah belah persatuan dengan dalih apa pun.
8. Perbedaan pandangan di antara aspiran-aspiran politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawaduk, dan saling menghargai satu sama lain. Dengan demikian, berpolitik harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan NU.
9. Berpolitik bagi NU menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal balik
dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan
perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat,
menyalurkan aspirasi, serta berpartisipasi dalam pembangunan.
      NU juga merupakan gerakan keagamaan yang bertujuan untuk membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat yang bertakwa kepada Allah swt.,  cerdas, terampil, berakhlak mulia, tenteram, adil, dan sejahtera. Sebagai organisasi kemasyarakatan, NU menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan bangsa Indonesia dan senantiasa menyatukan diri dengan perjuangan nasional.
       Berkaitan dengan ranah politik, para pendiri NU tidak pernah bermimpi untuk
menjadikan jam'iyyahnya berkecimpung di dunia politik karena ia lahir bukan dari
wawasan politik, kepentingan kursi di parlemen, atau posisi penting di pemerintahan.
Akan tetapi, dalam kenyataan kelangsungannya selama 32 tahun (1952-1984).
organisasi ulama ini telah menceburkan diri ke dalam kancah politik.
     Sikap NU atau warga NU terhadap perkembangan politik nasional memang
terkesan responsif dan akomodatif. Hal ini bisa dilacak jauh ke belakang. Sejak
didirikannya pada tahun 1926 sampai tahun 1945, NU menegaskan dirinya sebagai organisasi sosial keagamaan. Identitas itu ditinggalkan ketika pada tahun 1945-1952 NU bergabung dengan Partai Masyumi dalam bentuk federasi. Konflik-konflik internal antara unsur-unsur tradisionalis dan modernis di tubuh Partai Masyumi menyebabkan NU keluar dari Partai Masyumi dan menyatakan diri sebagai partai sendiri.
     Pada Pemilu 1955 yang dikenal sebagai pemilu yang sangat demokratis, Partai
NU keluar sebagai partai politik terbesar ketiga setelah PNI dan Masyumi. Apabila
ketika NU masih bergabung dengan Masyumi hanya memperoleh 8 kursi, maka
setelah berpisah, NU berhasil menduduki 45 kursi di parlemen. Keberhasilan NU
dalam pemilu itu tidak hanya mengubah posisinya di parlemen, tetapi juga dalam
kabinet di mana dari 25 menteri yang ada, NU menduduki 5 kursi menteri.
     Pada Pemilu 1971 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Orde Baru yang penuh dengan intrik dan intimidasi, Partai NU menempati urutan kedua setelah Golkar. Apabila pada Pemilu 1955 NU mempunyai 45 wakil di parlemen, maka pada Pemilu 1971 ini NU berhasil menduduki 58 kursi di DPR. Artinya, ada
kenaikan 13 kursi yang diperoleh NU.
     Pada tahun 1973, Pemerintah Orde Baru mengadakan restrukturisasi politik di
mana hanya ada tiga kekuatan sosial politik yang diperbolehkan eksis di Indonesia.
Ketiganya adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Empat partai Islam yang ada waktu itu, yaitu NU, Parmusi, Perti dan PSII, berfusi (melebur) menjadi satu partai, yaitu PPP.
     Meskipun NU merupakan unsur terbesar dalam PPP, namun NU tidak pernah mendapatkan posisi yang strategis sebagai ketua umum partai. Di saat itu, situasi politik nasional juga kurang menggandeng NU sehingga NU merasa termarjinalkan di pentas politik nasional. Akhirnya, pada tahun 1984 melalui Muktamar NU ke-27 di Situbondo, NU menyatakan kembali ke Khittah 1926, yakni kembali ke niatan semula sebagai organisasi sosial keagamaan.
     Dengan kata lain, NU menghentikan segala aktivitas politik praktis dan kembali
menggalakkan kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah. Dengan keputusannya
ini, NU tidak lagi berafiliasi ke PPP dan memberikan kebebasan kepada seluruh
warganya, termasuk para kiai, untuk menyalurkan aspirasi politik mereka ke partai politik mana saja yang mereka pilih.
     Sebagai organisasi sosial keagamaan yang telah melepaskan baju politiknya,
NU lebih luwes dibandingkan apabila tetap berafiliasi ke salah satu parpol. Norma-
norma organisasinya lebih longgar. Meskipun demikian, keadaan itu tidak menutup kesempatan warga NU untuk berpartisipasi aktif di bidang politik.
     Ketika era reformasi datang menyusul tumbangnya rezim Orde Baru,
kesempatan untuk mendirikan partai politik sangat terbuka. Oleh karena NU sebagai organisasi terikat dengan Khittah 1926 maka NU tidak mungkin berubah lagi
menjadi partai politik. Akan tetapi, nafsu warga NU sangat besar untuk mendirikan
parpol. Mereka mendirikan beberapa partai politik yang di antaranya difasilitasi
oleh PBNU, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Secara resmi, partai didirikan pada tanggal 23 Juli 1998.
     Dalam perjalanannya, partai ini tidak bisa berjalan mulus sebagaimana yang
diharapkan. Beberapa kiai sepuh NU dan para politisi yang semula sangat mendukung PKB "lari" dan mendirikan partai baru yang dinamakan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Dengan berdirinya PKNU, yang bidikannya juga warga nahdliyin, maka warga NU semakin banyak mempunyai pilihan. Sebagai konsekuensinya, tidak pernah ada partai dukungan warga NU yang bisa menjadi besar.
     Sebagian orang berpendapat bahwa politik menjanjikan kursi empuk yang
menyenangkan. Hal itu didukung oleh kenyataan bahwa di antara tujuan politik
adalah merebut sebanyak-banyaknya kursi dan mengincar kedudukan serta posisi
di jajaran pemerintahan. Banyak orang, termasuk ulama dan kiai yang menyukai
posisi semacam itu. Keinginan seperti itu lumrah dan manusiawi selama hal itu
dicapai dengan jalan yang terhormat dan elegan.
     Ketika atensi dan energi warga NU terserap ke dalam dunia politik, banyak
kiai dan pengasuh pesantren yang kurang memberikan perhatian terhadap jamaah
dan pesantren yang dipimpinnya. Akibatnya, banyak pesantren dan madrasah yang perkembangannya sangat memprihatinkan.
     Polarisasi politik dan perbedaan cara pandang dalam berpolitik juga menye-
babkan perseteruan antarkiai dan antarpesantren yang diasuhnya. Padahal, mereka adalah sama-sama warga nahdliyin.
     Idealnya, para pemimpin umat termasuk para kiai, tidak terlibat langsung dalam politik praktis. Mereka cukup menjadi guru bangsa yang selalu siap untuk dimintai nasihat dan fatwa. Keberpihakan mereka dalam salah satu partai politik, apalagi aktif di dalamnya, akan mengurangi akses dakwah ke masyarakat yang lebih luas.
     Sebagai pewaris nabi, posisi yang sangat tinggi dalam Islam, tugas mereka
adalah membimbing umat menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tugas itu insya Allah jauh lebih bermanfaat daripada terjun di dunia
politik.

Qaulun Ma'sur
الوقت أثمن من الذهب
2.
Waktu itu lebih berharga daripada emas.
Rangkuman
1. Pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur disebutkan bahwa Khittah NU 1926 adalah landasan berpikir, bersikap, dan bertindak yang harus dicerminkan dalam tingkah laku dan proses pengambilanwarga NU keputusan, baik perseorangan maupun organisasi.
2. Bagi Nahdlatul Ulama, pemahaman Ahlussunnah Wal-Jama'ah itu tidak hanya
terbatas pada bidang akidah saja, tetapi juga meliputi bidang fikih, tasawuf, akhlak, dan kemasyarakatan.
3. Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya tersebut,
Nahdlatul Ulama mengikuti paham Ahlussunnah Wal-Jama'ah dan menggunakan jalan pendekatan (mazhab) sebagai berikut.
a. Di bidang akidah, Nahdlatul Ulama mengikuti paham Ahlussunnah Wal-
Jama'ah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
b. Di bidang fikih, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu jalan pendekatan
(mazhab) dari Imam Abu Hanifah an Nu'man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
c. Di bidang tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti ajaran Imam al-Junaid al-
Bagdadi dan Imam al-Gazali.
4. Dasar-dasar paham keagamaan Nahdlatul Ulama menumbuhkan sikap
kemasyarakatan yang bercirikan sikap tawassut dan iktidal, sikap tasamuh,
sikap tawazun, dan amar makruf nahi mungkar
5. Pandangan/wawasan politik NU dirumuskan dalam khittah yang antara lain
berbunyi, "Nahdlatul Ulama sebagai jam'iyyah secara organisatoris tidak terikat
dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan mana pun juga."


Penulis: SYAIHUDDIN S. Pd
Alamat: Kertosono Ramah Gading-Probolinggo

#Ke-NU-an
#ke-NU-ankelas6
#KhittahNahdlatulUlama'

Jumat, 24 Februari 2023

Bab 5 KHALIFAH ALI bin ABI THALIB r.a & Peran Ali r.a sebagai Pemberani.

     Dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan maka berakhirlah ketiga KhulafaurRasyidin. Sejak itulah perlu ada pengganti untuk meneruskan pemerintahan yang dibangun secara demokratis itu. Atas kesepakatan umat Islam, Ali bin Abi Thaliblah diangkat sebagai penggantinya. Mengapa Ali bin Abi Thalib yang diangkat? Apakah Ali bin Abi Thalib yang lebih memenuhi syarat dari yang lain? Untuk mengetahui secara pasti ikutilah keterangan pada materi berikut ini.
2. Ali bin Abi Thalib Semasa Kecil
     Ali bin Abi Thalib adalah putra paman Rasulullah saw. Ketika Ali masih kanak-
kanak, penduduk Mekkah dilanda kelaparan. Untuk mengurangi penderitaan Abu Thalib, maka Muhammad saw memohon kepada pamannya Abbas untuk
memberikan bantuan kepada Abi Thalib. Maka diputuskanlah hal tersebut, Abbas
membantu memelihara Ja'far sedangkan Muhammad saw membantu Ali.

Sejak saat itu, Ali tumbuh menjadi remaja yang baik di bawah didikan Nabi
Muhammad saw. Nabi Muhammad saw senantiasa memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada Ali. Ketika Muhammad saw diutus menjadi Nabi, Ali berumur 13 tahun. Dialah orang pertama yang masuk Islam setelah Siti Khadijah (isteri Nabi).

B. Kepribadian Ali bin Abi Thalib r.a
1. Perilaku Ali bin Abi Thalib r.a
     Ali dibesarkan di rumah Nabi Muhammad saw. Walaupun masa kecil Ali bersama Nabi Muhammad saw sebelum menjadi Nabi, namun didikan Muhammad Saw kepada Ali sungguh sudah mencerminkan perilaku Islami. Nabi  Muhammad saw mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik. Misalnya, Muhammad saw men-
contohkan sikap jujur dan bertanggung jawab, selalu berkata benar (Shiddiq), tak
pernah berbohong, suka bersilaturrahmi, suka menolong sesama mereka,
memuliakan tamu dan mendukung usaha-usaha kemuliaan, mengasihi yang kecil
dan menghormati yang lebih besar dan sifat-sifat baik lainnya. Para ahli sejarah
sepakat mengatakan, bahwa Nabi Muhammad saw sejak kecil tidak pernah terbawa atau tergoda untuk menyembah berhala. Allah swt senantiasa menjaga Nabi Muhammad saw sejak sebelum menjadi Nabi. Dalam suasana seperti itulah Ali bin Abi Thalib hidup bersama Nabi Muhammad saw.
     Setelah menerima wahyu yang pertama, Nabi Muhammad saw menyeru kepada keluarganya untuk memeluk Islam. Siti Khadijah yang senantiasa mendukung
perjuangan Nabi, tentu saja menjadi pemeluk Islam pertama. Kemudian Zaid, anak angkat Nabi Muhammad saw yang senantiasa mengantar makanan kepada Nabi Muhammad semasa berkhalwat di Gua Hira.
     Ali menyaksikan dengan saksama ketika Nabi Muhammad saw dan Siti  Khadijah melakukan shalat. Ali memperhatikannya dengan heran. Setelah Nabi selesai melakukan shalat bersama Siti Khadijah, Ali menanyakan apa yang baru saja dilihatnya. keberanian Ali tersebut, Rasulullah saw mengajaknya untuk memeluk Islam. Rasulullah menerangkan kepada Ali, "Ini adalah agama Allah yang diridhai-Nya dan telah diutus rasul-rasul sebelumku untuk menyampaikannya. Aku mengajakmu untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan sekaligus menyembah-Nya dan ingkarilah Lata dan Uzza". Kemudian Ali yang masih kecil itu menjawab, "Apa yang Anda katakan itu suatu yang benar, karenanya sebelum aku mengambil keputusan, akan aku rundingkan dahulu dengan ayahku". Mendengar jawaban Ali demikian polosnya, Nabi berkata, "Wahai Ali jika kamu belum masuk Islam, sebaiknya dirahasiakan saja berita ini".
     Malam hari setelah kejadian tersebut, Ali mendapat petunjuk dari Allah swt.
Pagi harinya ia siap menyatakan diri masuk Islam. Ali bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara aku memeluk Islam?" Rasulullah menjawab, "Ikrarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tak ada sekutu bagi-Nya sekaligus kamu lepaskan kepercayaan kepada semua berhala". Dengan mengucapkan ikrar sebagaimana disuruh Rasulullah, maka resmilah Ali bin Abi Thalib memeluk agama Islam.

2. Kedudukan Ali bin Abi Thalib Sesudah Masuk Islam
     Ali termasuk anak yang cerdas dan berani. Dengan kedua sifatnya itu, walau
masih dalam usia anak-anak, ia senantiasa membela Islam dan Nabi.
Setelah turun wahyu asy-Syu'ara': 214.
وانذر عشيرتك الأقربين
Artinya: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang
terdekat". (QS. asy-Syu'ara'/26:214)
     Kemudian Rasulullah saw meminta Ali bin Abi Thalib untuk mendampinginya
dalam suatu perjamuan. Nabi mengundang semua kaum kerabatnya. Nabi menjamu mereka dengan sopan dan makanan yang cukup. Kemudian Nabi hendak berbicara,
namun Abu Lahab menyuruh para hadirin tersebut untuk bubar. Maka undangan pun
bubar. Rasulullah saw tetap sabar dan tidak putus asa.
     Di hari yang lain Rasulullah saw mengundang mereka kembali. Ali diminta
bantuannya oleh Rasulullah saw untuk membantu menyiapkan hidangan. Setelah
menikmati hidangan, Rasulullah saw menyampaikan dakwah kepada para hadirin, yang terdiri atas kaum kerabat beliau. Isi dakwah Rasulullah saw kurang lebih sebagai berikut, "Saya tidak tahu kalau ada seorang dari bangsa Arab yang
membawakan pada kaumnya sesuatu yang lebih baik daripada yang saya bawakan kepada Anda. Saya membawakan kepada Anda satu kebaikan guna kebaikan Anda di dunia dan akhirat. Saya diperintahkan Tuhanku mengajak Anda kepada-Nya.
Siapakah di antara Anda yang mau menolongku dalam pekerjaan ini?"
     Mendengar ajakan Rasulullah saw tersebut, mereka saling memandang dan
bahkan ada yang hendak segera meninggalkan tempat pertemuan tersebut. Saat itulah, Ali yang masih muda belia itu bangkit dan berucap, "Saya, wahai Rasulullah!
Saya siap menjadi penolongmu yang setia; saya berjanji akan memerangi orang
yang engkau perangi". Mendengar keberanian Ali tersebut, banyak hadirin yang senyum menyindir. Terutama senyum sindiran itu ditujukan kepada Abi Thalib, ayah Ali. Kemudian pertemuan pun bubar.

C. Keberanian Ali bin Abi Thalib r.a
     Mengerjakan ibadah shalat (bukan yang lima waktu) sudah sejak kerasulan
Muhammad disyari'atkan. Setiap kali datang waktu shalat, Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah, bahkan terkadang bersama Ali datang ke suatu tempat yang terpencil untuk melaksanakan shalat. Suatu kali, kegiatan tersebut diketahui oleh Abi Thalib, ayah Ali. Beliau bertanya, baik kepada Nabi sendiri maupun kepada putranya Ali. Beliau bertanya kepada Ali, "Wahai Ali, agama apa yang kamu peluk itu?" Kemudian Ali menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan sopan dan berani, "Ayahku, sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya dan aku pun meyakini sepenuhnya segala apa yang disampaikannya aku pun telah shalat bersamanya dan mentaati semua perintah-Nya" Mendengar kemantapan, jawaban putranya tersebut, Abi Thalib berkata, "Sesungguhnya dia telah mengajakmu kepada kebaikan, karena itu berpegang teguhlah kepadanya".

1. Keberanian Ali Menghadapi Kaum Kafir Quraisy
Rasulullah saw mengadakan pengajian sebagai bahan komunikasi dan memantapkan keimanan serta berdakwah di rumah Al Arqam bin Abil Arqam Rumah
tersebut, yang kemudian dikenal dengan Daarul Arqam terletak di belakang bukit.
Shafa. Masyarakat Mekkah dan sekitarnya yang ingin datang ke sana dan ingin
bertemu dengan Rasulullah saw senantiasa dihadang oleh kaum kafir Quraisy. Hal ini sering diperhatikan oleh Ali bin Abi Thalib. Kemudian dengan keimanannya dan keberaniannya, ia mengantar orang-orang tersebut untuk bertemu Rasulullah saw.

2. Ali bin Abi Thalib Setelah Dewasa
     NggakiniSemakin dewasa, keimanan Ali bin Abi Thalib semakin mantap. Kemantapan tersebut membuatnya menjadi semakin dikenal orang. Tanggung jawab yang dipikulnya kemudian menjadi semakin berat. Beberapa ujian yang merupakan pengorbanannya untuk Islam antara lain:
Menjadi pensar Ketika sebagian umat Islam sudah berhijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy semakin marah dan memusuhi Nabi. Pada suatu hari yang telah direncanakan, kaum kafir Quraisy ingin membunuh Rasulullah saw. Mereka mengepung rumah Rasulullah saw dengan pasukan yang lengkap dengan pedang terhunus.
Di kemalaman yang kelam. Allah swt memberikan petunjuk kepada
Rasulullah saw untuk berhijrah ke Madinah bersama Abu Bakar. Rasulullah saw malam itu juga menyuruh Ali untuk tidur di tempat tidurnya. Setelah Ali bin Abi Thalib pindah ke tempat tidumya, Rasulullah saw bersama Abu Bakar pun keluar dari rumah dengan meminta perlindungan dan petunjuk dari Allah swt. Sambil membaca permulaan Surah Yasin, Rasulullah saw mengambil sejumput pasir.
Kemudian pasir tersebut ditaburkan kepada para pengepung tersebut. Hal ini
sebagaimana firman Allah dalam Surah Yasin ayat 8-9:
إنا جعلنا في أعناقهم اغلا فهي إلى الأذقان فهم مقمخون. وجعلنا
من بين ايديهم سدا ومن خلفهم سدا فاغشيهم فهم لايبصرون
Artinya: "Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu
tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.
Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka,
sehingga mereka tidak dapat melihat".  (QS. Yasin/36:8-9)
     Kemudian Rasulullah saw beserta Abu Bakar keluar dengan tenang dan
selamat. Para pengepung baru tersadar pagi harinya. Namun begitu, mereka
masih belum merasa yakin Rasulullah saw sudah keluar rumah, karena mereka
masih melihat selimut Rasulullah saw. Ketika hari siang, maka Ali bin Abi Thalib
pun bangun. Barulah mereka merasa gagal dan tertipu
b. Hijrah ke Madinah dengan berjalan kaki
     Ali bin Abi Thalib dipesan agar menyusul ke Madinah setelah
mengembalikan barang-barang yang dipinjam Rasulullah saw kepada
pemiliknya Setelah mengembalikan barang-barang tersebut, maka bersegeralah ia berhijrah ke Yatsrib (Madinah) dengan berjalan kaki.
Ditempuhnya padang pasir yang panas membara di siang hari. Di siang hari ia
lebih banyak beristirahat, dan pada malam harinya ia tempuh perjalanan dengan berlari-lari kecil. Dengan demikian, ia masih dapat berjumpa dengan Rasulullah saw, ketika beliau masih berada di Quba
      Ketika diberitahukan bahwa Ali bin Abi Thalib sampai dengan selamat, maka Rasulullah saw menyuruhnya masuk. Tapi ketika diberitahukan kepada
Rasulullah saw, bahwa Ali tidak bisa berjalan karena kakinya bengkak-bengkak, maka Rasulullah saw segera mendatanginya. Kemudian Rasulullah memeluk Ali bin Abi Thalib. Kaki Ali yang luka diobati oleh Rasulullah saw dan atas izinAllah luka tersebut sembuh.

c. Peran Ali bin Abi Thalib dalam beberapa peperangan
1. Perang Badar Kubra
Perang ini terjadi pada tahun ke-2 H. Perang ini berawal dari perang tanding. Dari pihak Quraisy tampil 3 orang, yaitu Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Al Walid bin Utbah. Dari pihak kaum Muslimin, Rasulullah memerintahkan Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Harits. Hamzah bertarung melawan Syaibah, yang dimenangkan oleh Hamzah. Ali bertarung melawan Al Walid, yang juga dimenangkan oleh Ali. Adapun Ubaidah yang melawan Utbah, saling melukai. Kemudian Ali dan Hamzah segera membantunya, maka Utbah pun tewas. Ubaidah banyak mengeluarkan darah, sehingga ia pun wafat.

2. Perang Khandaq
     Perang Khandaq merupakan perang yang menggunakan parit sebagai
pertahanan kaum Muslimin. Dalam perang Khandaq yang menarik adalah
terjadinya perang tanding antara Ali bin Abi Thalib dengan Amru bin Abdu Wudd. Amru dikenal keperkasaannya dan mendapat julukan si seribu orang ksatria. Dengan kesombongannya, ia menantang kaum muslimin untuk bertanding. Dengan sombongnya Amru menantang, "Siapa berani menghadapiku? Kalau kalian mati dalam perang akan masuk surga, sedangkan kami akan masuk neraka; siapa yang ingin masuk surga, lawanlah aku! Aku sudah haus neraka! Hayo, siapa berani?" Kemudian Aliññmenjawab dengan lantang, "Saya akan lawan kamu!" Pada awalnya Rasulullah saw melarang Ali. Namun untuk ketiga kalinya, akhirnya Rasulullah saw mengizinkan. Dengan kesombongannya Amru mengejek
Ali, sambil berkata, "Wahai Ali, bukankah masih banyak paman-pamanmu
yang perkasa? Saya tak sampai hati membunuhmu!"Dengan tegas Ali menjawab, "Tetapi aku ingin membunuhmu!" Mendengar perkataan
tersebut, Amru marah dan menyerang Ali. Namun akhirnya Amru tewas di tangan Ali bin Thalib.

d. Peran Ali bin Abi Thalib pada masa Khalifah Abu Bakar
     Ketika pembai'atan Abu Bakar sebagai Khalifah, Ali dipanggil oleh Abu
Bakar. Pada waktu itu Ali bin Abi Thalib tidak ada di antara para hadirin. Setelah
Ali datang, maka dilakukan pembai'atan.
     Di hari yang lain pada saat Khalifah bergegas hendak memerangi kaum
murtad di perang Dzil Qishash dan telah menaiki kudanya, Ali menasihati dan
mencegahnya. Ali bin Abi Thalib menasihati agar Khalifah tetap tinggal di
Madinah.
     Ali bin Abi Thalib selalu dekat dengan Khalifah Abu Bakar dalam segala situasi. la selalu memberikan saran-saran yag baik kepada Khalifah dalam
meningkatkan pemerintahan.

e. Peran Ali bin Abi Thalib pada masa Khalifah Umar bin Khaththab
     Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib
senantiasa membantu. Ali membantu semua urusan Khalifah dari yang besar
sampai yang kecil. Misalnya:

1. Ali bin Abi Thalib membantu Khalifah dalam mendiktekan dan mencatat
hewan-hewan sedekah bersama Utsman bin Affan.

2. Saat terjadi pertempuran yang seru dan menegangkan di Irak dan Syam,
Khalifah hendak berangkat untuk memberi motivasi kepada kaum muslimin.
Hñal itu dicegah oleh Ali bin Abi Thalib. Kemudian Khalifah Umar bin Khaththab tidak jadi berangkat karena nasihat-nasihat Ali bin Abi Thalib.
Ini terbukti bahwa Ali bin Abi Thalib terlibat sampai ke urusan penting dan
ia sangat mencintai Khalifah.

3. Dalam menentukan kalender hijrah, pada masa itu kaum muslimin berselisih
pendapat. Ada yang mengusulkan kalender hijrah tersebut dihitung sejak
Nabi lahir. Ada juga yang ingin menyamakannya dengan kalender Romawi.
Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan, untuk kalender hijriyah dihitung sejak hijrahnya Nabi Muhammad saw. Hal ini disetujui oleh Khalifah Umar bin Khaththab.

f. Peran Ali pada masa Khalifah Utsman bin Affan
     Seperti halnya kepada khalifah terdahulu, kepada Khalifah Utsman pun Ali
senantiasa membantu dalam berbagai urusan. Utsman bin Affan adalah khalifah
ketiga setelah Nabi wafat. Beliau terkenal karena sifatnya yang lembut.
Sebenarnya calon kuat menjadi khalifah setelah Umar adalah Utsman dan Ali.
Namun karena Utsman bin Affan dianggap lebih tua, maka beliau dibai'at
menjadi khalifah.
1. Pada waktu Khalifah Utsman bin Affan menggandakan Al-Qur'an dan
membagi-bagikannya kepada empat kota yang dikuasai kaum muslimin, Ali mendukung hal itu. Ali juga membantu menjelaskan kepada kaum
muslimin yang ragu dan mengkritik khalifah serta menjelaskan kebaikan-
kebaikan langkah khalifah tersebut.

2. Ali menggagalkan rencana demonstrasi oleh kelompok yang dipimpin oleh
Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Abu Huzaifah. Mereka
berencana mengadakan demonstrasi kepada khalifah. Mereka menganggap khalifah lemah dalam mengadakan pengawasan terhadap bawahannya. Namun  dan hal yang terjadi sebenarnya. Usaha Ali bin Abi Thalib berhasil dengan baik. Ali bin Abi Thalib kemudian melaporkannya kepada Khalifah Utsman bin Affan. Khalifah sangat gembira. Selanjutnya Ali pun memberikan saran-saran lanjutan kepada khalifah dan khalifah pun menerima saran-saran tersebut.

3. Pada saat terjadi pengepungan terhadap rumah Khalifah Utsman bin Affan
oleh para pemberontak, Ali dan putranya Hasan dan Husen menjaga rumah
Khalifah. Banyak sahabat yang tak berani keluar rumah pada waktu itu.
Mereka hanya mengirimkan putra-putranya untuk ikut mengamankan rumah
khalifah. Karena para pemberontak tersebut cukup banyak dan mereka
sudah kerasukan setan, akhirnya jiwa khalifah tidak dapat diselamatkan.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum'at tanggal 18 Zulhijah tahun 35 H.

D. Proses Pemilihan All bin Abi Thalib r.a sebagai Khalifah 
1. Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah (35-40 H/656-661 M)
Setelah wafatnya Utsman bin Affan, keadaan tetap menegangkan. Kelompok-
kelompok pemberontak masih berkeliaran di Madinah. Para pemuda banyak yang
mendesak agar Ali segera menggantikan. Namun dengan tenang Ali menolak desakan tersebut. Ali bin Abi Thalib memandang, masih banyak sahabat yang dulu berjuang bersama Nabi Muhammad saw. Sahabat-sahabat tersebut antara lain
adalah Thalhah bin Ubaidillah dan Sa'ad. Mendengar hal itu, kaum muslimin segera
mengajak Ubadillah dan Sa'ad bergabung membai'at Ali bin Abi Thalib. Mereka
setuju dan terjadilah pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah ke empat bagi
umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.

2, Usaha-Usaha yang Dilakukan Ali bin Abi Thalib Setelah Dilantik sebagai
Khalifah
     Suasana pemerintahan dan keadaan masyarakat pada masa Ali sudah sangat
jauh berbeda dengan para pendahulunya. Maka untuk mengatasi hal ini, Khalifah
Ali bin Abi Thalib mengambil kebijaksanaan antara lain :
a. Mengganti para gubernur yang diangkat oleh Khalifah Utsman. Semua gubernur
yang diangkat oleh Khalifah Utsman banyak yang tidak disenangi oleh kaum
muslimin. Bahkan banyak yang menganggap bahwa gubernur-gubernur itulah yang menyebabkan timbulnya pemberontakan-pemberontakan pada masa khalifah. Adapun gubernur yang diangkat sebagai pengganti adalah:
- Sahl bin Hanif sebagai Gubernur Syiria.
- Utsman bin Hanif sebagai Gubernur Basrah.
- Qais bin Sa'ad sebagai Gubernur Mesir.
- Umrah bin Shihab sebagai Gubernur Kufah.
- Ubaidah bin Abbas sebagai Gubernur Yaman.

b. Menarik kembali tanah milik negara.
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan memerintah, banyak pejabat yang
menguasai harta negara. Mereka diberikan berbagai fasilitas oleh Khalifah.
Banyak di antara mereka yang bergelimang harta dan bahkan suka merongrong Khalifah Utsman bin Affan. Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Khalifah Ali memerintahkan semua harta yang dianggap milik negara ditarik kembali. Hal ini dilakukan untuk membersihkan pemerintahan, ...

E. Kecintaan Ali r.a pada Ilmu Pengetahuan Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ilmu pengetahuan sangat diutamakan.
Beliau memiliki kelebihan dibandingkan dengan khalifah-khalifah yang lain. Dia adalah pemimpin yang cerdas dan gesit, perumus kebijaksanaan yang mengarah kepada kebaikan masa depan. Beliau seorang pahlawan yang gagah berani, penasihat hukum yang ulung, pemegang teguh tradisi, sahabat sejati, dan seorang kawan yang dermawan.
Sejak muda Ali dikenal sebagai orang yang berani dan tangkas berperang, dia
mencintai ilmu pengetahuan. Di dalam menata pemerintahan beliau tidak lepas dari landasan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dalam mengatur bidang politik, militer, dan pembangunan beliau berdasarkan ilmu pengetahuan umum, sedang bidang agama dia berlandaskan kepada Al-Qur'an dan sunnah Nabi atau hadis.
Banyak di antara mereka yang bergelimang harta dan bahkan suka merongrong Khalifah Utsman bin Affan. Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Khalifah Ali memerintahkan semua harta yang dianggap milik negara ditarik kembali.
Hal ini dilakukan untuk membersihkan pemerintahan.
Beliau menganjurkan kepada muslimin untuk terus belajar dan menggali ilmu
pengetahuan, demi masa depan bangsa dan agama dan rongrongan kaum
pemberontak.
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, daerah kekuasaan Islam sudah semakin luas. Banyak di antara daerah kekuasaan Islam tersebut yang tidak mengerti bahasa Arab. Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan Khalifah, karena ajaran Islam disampaikan dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib berinisiatif untuk menyempurnakan bahasa Arab. Maka diperintahkannya Abul Aswad al Duah untuk memberikan tanda baca dan mengarang kitab pokok-pokok ilmu nakwa. Dengan demikian, kaum muslimin yang bukan berasal dari Arab mampu mempelajari Al-Qur'an dan Hadis dengan baik.
Sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya halaqah-halaqah di masjid, maka ilmu pengetahuan pun ikut berkembang. Kaum muslimin yang pandai semakin banyak. Dari sinilah muncul kaum cendekia di kalangan kaum muslimin.
Ilmu-ilmu yang berkembang dan tokoh-tokoh cendekia yang mengajarkan dan
memperkenalkan, antara lain :
1. Al-Qur'an, Hafalan, dan Bacaan (Qira'at), tokoh perintis dan yang me-
ngembangkannya antara lain : Khabbab, Abdullah bin Mas'ud.
2. Ilmu Tafsir, tokoh perintisnya antara lain : Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud,
Abdullah bin Abbas, dan Ubay bin Ka'ab.
3. Ilmu Fiqih, tokoh pengembangnya antara lain: Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, dan Abu Musa Al Asy'ari.
4. Ilmu Hadits, tokoh pengembangnya antara lain : Siti 'Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Anas bin Malik.
5. Ilmu Bahasa, tokoh pengembangnya antara lain: Zaid bin Tsabit.

F. Ali bin Abi Thalib ra Wafat
Perang Shiffin yang terjadi antara pasukan kaum muslimin dengan Muawiyah adalah
akar dan wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dalam perang ini Muawiyah mengajak berdamai dengan khalifah dengan mengangkat Al-Qur'an. Dengan desakan dari para sahabat, akhimya khalifah menerima ajakan damai tersebut. Maka diadakanlah gencatan
senjata.
     Dalam perdamaian tersebut, mereka sepakat untuk mengadakan perundingan.
Pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin Ash. Sedangkan pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al Asy'ari. Dengan kelicikannya, Amr bin Ash mampu mengelabui Abu Musa Al Asy'ari.
Dalam perundingan keduanya sepakat untuk menyuruh mundur Ali dan Muawiyah dari kekhalifahan, selanjutnya khalifah akan diputuskan dari kesepakatan umat Islam. Abu Musa berpidato lebih dahulu. la menyatakan mundurnya Ali dari kursi kekhalifahan.
Kemudian naik Amr bin Ash, yang dalam pidatonya ia menyatakan persetujuannya tentang pendapat Abu Musa Al Asy'ari itu. Kemudian ia menyatakan kemunduran Muawiyah dari kekhalifahan, tapi ia juga kemudian mengukuhkan kembali Muawiyah sebagai khalifah.
     Sejak peristiwa tersebut, dalam kelompok Ali bin Abi Thalib terjadi perpecahan. Ada yang menamakan kelompok "Khawarij" (artinya keluar). Mereka menganggap Ali lemah. Bahkan mereka menganggap orang-orang yang terlibat dalam perundingan (Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash) adalah kafir. Mereka bersepakat untuk membunuh ketiga orang tersebut. Namun yang berhasil terbunuh hanya Ali bin Abi Thalib Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Beliau dibunuh oleh Abdurahman bin Muljam.



Penulis: SYAIHUDDIN, S. Pd
Alamat: Kertosono Ramah, Gading-Probolinggo.

#Khalifahalibinabithalib
#AlibinabiThalib
#SKI
#Syaihuddin

D. Proses Pemilihan Ustman bin Affan r.a sebagai Khalifah


    
      
     Utsman bin Affan menjadi Khalifah (23-35 H/644-656 M). Proses pengangkatannya
adalah sebagai berikut..
      Umar bin Khaththab wafat ditikam oleh komplotan anti Islam tahun 23 H/644 M,
komplotan anti Islam itu terdiri atas:
a. Hurmuzan, seorang pembesar bangsa Persia yang telah kehilangan kekuasaan
dan kedudukannya, kemudian menjadi orang biasa dan tinggal di Madinah.
b. Jufainah, berasal dari Persia, semula beragama Nasrani, kemudian masuk Islam,
menjadi guru di Madinah.
c. Abu Lu'lu'ah yang berasal dari Persia. Ia adalah seorang tawanan perang yang
dibawa ke Madinah sebagai budak. Abu Lu'lu'ah yang melaksanakan pembunuhan
terhadap Umar pada waktu sedang shalat subuh.
     Umar tidak mati seketika. la sempat berwasiat dan menunjuk tim yang terdiri atas
enam orang sahabat terkemuka, untuk menentukan dan memilih khalifah sebagai
penggantinya.
Keenam sahabat tersebut adalah :
a. Utsman bin Affan,
b. Ali bin Abi Thalib,
c. Abdurrahman bin Auf,
d. Thalhah bin Ubaidillah,
e. Zubair bin Awwam,
f. Sa'ad bin Abi Waqqash.
     Umar menganjurkan agar putranya, Abdullah ibnu Umar, ikut sebagai peserta
musyawarah tapi tidak boleh dipilih menjadi khalifah. Mereka bermusyawarah,
Abdurrahman mengemukakan sebuah usul. Usulnya sebagai berikut:
a. Dia sebagai pribadi melepaskan haknya sebagai calon khalifah.
b. Sebagai imbalan pelepasan hak itu, dia menjadi ketua tim formatur yang menentukan
calon yang menduduki kursi khalifah.
c. Penentuan dan pemilihan calon khalifah dilakukannya setelah mendengar suara
anggota tim dan suara umat.
     Usulnya itu disetujui oleh semua anggota tim. Hasil musyawarah menunjukkan bahwa
suara berada pada posisi seimbang antara yang memilih Ali dan Utsman. Karena Utsman
lebih tua, Abdurrahman menetapkan Utsman bin Affan sebagai pengganti Umar. Usul itu
disetujui oleh anggota tim. Akhirnya Utsman bin Affan diangkat dan dibai'at sebagai
khalifah yang menggantikan Umar bin Khaththab.

E. Jasa Utsman bin Affan r.a
Setelah beliau diangkat sebagai khalifah, program selanjutnya adalah sebagai
berikut:
a. Membangun Masjid Nabawi di Madinah
     Utsman bin Affan mengadakan rehabilitasi (perluasan dan perbaikan) masjid
Nabawi. Masjid tersebut diperluas dan bangunannya diperindah. Tiang-tiangnya
diganti beton. Sebagian dinding-dindingnya diukir dengan ukiran-ukiran yang indah.

b. Pengumpulan dan Penulisan Al-Qur'an
     Mengumpulkan dan membukukan Al Qur'an merupakan usaha lanjutan dari
khalifah sebelumnya. Pada tahun 26 H, Utsman bin Affan lebih menitikberatkan pada
penulisan Al-Qur'an. Beliau membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit,  sekretaris Rasulullah. Selain itu, ia juga seorang sahabat yang hafal Al-Qur'an.
Sebagai anggota ditunjuk Abdullah bin Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash dan
Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Tim ini kemudian membukukan Al-Qur'an.
Pembukuan tersebut kemudian dikenal dengan "Mushaf atau Al Mushaf". Al Mushaf
tersebut ditulis sejumlah lima buah. Empat buah dikirim ke daerah-daerah Islam, di
antaranya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah, dan Kufah. Satu disimpan di Madinah
dan dipegang oleh Khalifah Utsman sendiri. Al Mushaf yang dipegang oleh Khalifah
Utsman bin Affan, kemudian disebut "Mushaf Utsmani atau Mushaf Al Imam".

F. Khalifah Utsman bin Affan r.a Wafat
Dalam memilih para pejabat yang membantu beliau memerintah, sebagian besar
masih merupakan famili atau keluarga dekat. Pengawasan terhadap perilaku pejabat
kurang sekali mendapat pengawasan. Hal ini mungkin karena khalifah yang sudah lanjut
usia. Beliau juga percaya dengan para pejabat yang masih merupakan keluarga. Banyak
keluhan masyarakat yang tidak sampai ke telinga beliau. Hal itu menjadikan resah dan
protes masyarakat. Puncak keresahan ini adalah terjadinya pemberontakan-
pemberontakan terhadap Khalifah. Pemberontakan-pemberontakan itu jugalah yang
akhirnya mengakhiri hidup beliau pada tahun 35 H/656 M.


Penulis: SYAIHUDDIN, S. Pd
Alamat: Kertosono Ramah, Gading- Probolinggo

#SKI
#Khalifahustmanbinaffan
#ShahabatNabiMuhammadSaw

Sabtu, 18 Februari 2023

Seminar Al-Qur'an dan Naharul Qori'ah-TPQ JAMQUR Kraksaan-Probolinggo oleh Prof. Dr.KH. Said Aqil Al-Munawwar-Jakarta.

Kraksaan-Ahad, 18 Pebruari 2023

بسم الله الرحمن الرحيم 
Seminar Al-Qur'an dan Naharul Qori'ah oleh JAMQUR/TPQ Kraksaan-Probolinggo dalam rangka merayakan 1 Abad NU Menuju Peradaban Baru, semoga dengan adanya pelaksanaan Seminar Al-Qur'an ini Indonesia akan lebih maju, jaya dan selalu selamat dalam Lindungan Alloh SWT, amiin!

Tempat Seminar: Kantor Madagaripura Bupati Kraksaan Probolinggo.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِ نَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 9).


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ اُمَّ الْقُرٰى وَمَنْ حَوْلَهَا ۗ وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَهُمْ عَلٰى صَلَا تِهِمْ يُحَا فِظُوْنَ
"Dan ini (Al-Qur'an), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur'an), dan mereka selalu memelihara sholatnya."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 92).

Menurut 
Prof. Dr.KH. Said Aqil Al-Munawwar Orang yang Ahli Al-Qur'an dan Sholat akan diberikan Ketenangan hati dan tidak bersedih hati.
Sebagaimana yang Alloh SWT firmankan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 277).

Foto bersama setelah Seminar Al-Qur'an bersama Penyaji.

Prof. Dr.KH. Said Aqil Al-Munawwar bercerita:
1. Saat Beliau Umur 3 pandai baca Al-Qur'an;
2. Umur 4 tahun Khatam Al-Qur'an;
3. Jangan main yang sia-sia;
4. Umur 5 thn jadi Qori'.
5. Waktu kosongnya diisi dengan belajar Al-Qur'an+belajar yang positif lainnya;
6. Pernah di Madinah 76 s.d 79 (beasiswa).
7. Dengan Al-Qur'an kita bisa selamat di dunia - akhirat.
8. Memahami isi kandungan Al-Qur'an agar berguna diri, keluarga dan lingkungan;
9. Membaca Al-Qur'an yang isi kandungannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar kita;
10. Jumlah huruf Al-Qur'an 327.217 ribu huruf di dalam Al-Qur'an;
11. Belajar Al-Qur'an harus langsung belajar pada Guru agar tidak salah, Ahkamul Hurufnya, Makharijul Hurufnya, Sifatul Hurufnya dan Harokatnya.
12. Orang yang Hafal Al-Qur'an pasti Cerdas.
13. Orang yang Hafal Al-Qur'an punya  Ketenangan Jiwa, Mulia dunia - akhirat.
14. Orang yang Hafal Al-Qur'an jasadnya tidak akan rusak sampai hari Qiamat.
15. Orang tua penghafal Al-Qur'an akan diberi Mahkota 👑 oleh Alloh SWT di Padang Mahsyar lewat anaknya yang Hafal Al-Qur'an besok di akhirat;
16. Kita harus mengamalkan apa yang telah kita ketahui agar tidak sia-sia;
17. Kecerdasan Imam Syafi'i adalah separuh dunia ini;
18. Kecerdasan Otak kita Sama seperti pisau yang selalu bisa diasah ketajamannya. Artinya otak kita selalu dilatih menghafal Al-Qur'an, dan ilmu lainnya;
19. 77.994 kalimat di dalam Al-Qur'an.
 20. Belajar dan Al-Qur'an & IPTEK.
Semoga hasil Seminar ini bermanfaat dan barokah untuk kita Ummat Islam, Agama (khususnya NU), Bangsa dan Negara NKRI Tercinta, Amiin! Al-Faatihah....
Penulis: SYAIHUDDIN, S. Pd
#BelajarAlQur'an
#MenghafalAlQur'an
#TPQ
#JAMQUR







Rabu, 15 Februari 2023

TELAAH SOAL TRY OUT 1, TRY OUT 2 dan SOAL UM_MI Se-Kecamatan Gading-Probolinggo 2023, serta JADWAL GLOBAL UJIAN.

بسم الله الرحمن الرحيم.
Gading, Rabu 15 Pebruari 2023 Team          Pembuat Soal Try Out 1, Try Out 2 dan Soal UM sedang mengadakan "Telaah Soal" atau revisi bersama sebelum diujikan pada murid kelas 6.
Pelaksanaan "Telaah Soal" tersebut dilaksanakan di Aula Lt.2 MI. Nuraniyah-Nogosaren-Gading.
Team Pembuat Soal Ujian di atas terdiri dari semua Guru Kelas 6 Se-Kecamatan Gading-Probolinggo, dan  masing-masing Mapel (Mata Pelajaran) ada kelompok pembuatan soalnya sesuai dengan keputusan rapat KKG Gading yang kebetulan di laksanakan di MI. Tarbiyatul Muta'allimin Prasi-Gading-Probolinggo  sekitar 10 hari sebelumnya.

JADWAL GLOBAL UJIAN MI KECAMATAN GADING - PROBOLINGGO 2023.
Pelaksanaan Try Out 1 insyaAlloh tanggal 06 s.d 11 Maret 2023.
Try Out 2 tanggal 01 s.d 06 Mei 2023.
UM tanggal 15 s.d 31 Mei 2023.


RANGKUMAN AQIQAH AKHLAQ Semester 2 Kelas 6

Pelajaran 6 KALIMAT TAHLIL (لااله الا الله) Kecakapan Hidup Setelah mempelajari pelajaran kalimah tahlil kamu diharapkan dapat m...